siapa manusia sebenarnya ?
SIAPA MANUSIA SEBENARNYA ?
pada kehidupan didunia, Tuhan telah berkehendakkepada manusia untuk menjadi khofilah atau pemimpin bagi alam semesta, karena didalam dan diluar diri manusia adalah gabungan dari sifat – sifat semua makhluk yang ada.
ini membuktikan bahwa manusia mempunyai banyak kelebihan dan keutamaan dibanding dengan makhluk lainnya. dan sebagai pemimpin tidaklah pantas jika harus diperintah atau diperbudak oleh makhluk – makhluk lain yang tingkat kedudukannya ada dibawah manusia itu sendiri. ini juga menyangkut semua hal dan khususnya hubungan antara makhluk dan Tuhannya.
jadi seharusnya manusia dalam hubungan dengan Tuhan bisa secara langsung tanpa melui perantara atau menggunakan hal – hal lain, yang mana hal tersebut sifatnya masih kekuatan atau daya – daya dibawah manusia.
tapi jika manusia dalam hubungan internal dengan Tuhan masih menggunakan sesuatu hal yang sifat dan kedudukannya masih dibawah manusia, ini membuktikan bahwa manusia tersebut belum bisa dikatakan sebagai kholifah atau manusia yang sebenarnya. kenyataan ini telah dibuktikan langsung oleh utusan – utusan Tuhan, bahwa seharusnya manusia bisa menerima perintah dan tuntunan langsung dari Tuhan YME tanpa melalui perantara.
tapi kenapa pada masa sekarang manusia telah kehilangan jabatannya sbagai kholifah, dan tidak bisa menjadi pemimpin bagi alam semesta, tapi kebanyakan manusia justru telah diperbudak atau dierintah oleh daya atau kekuatan yang ada dibawahnya.
hal demikian itu bisa terjadi karena faktor dari kesalahan manusia itu sendiri, yang sudah menutup jalur internal antara Tuhan dan manusia, dan berdampak pada tertutupnya kesadaran hidup baik jasmani dan rohani.
kenyataan hidup
Manusia sebenarnya bias lebih daripada malaikat, tapi manusia juga bias menjadi iblis. Manusia adalah penyambung rasa kasih dari TUHAN dan manusia juga wujud sikap dari setan.
Begitulah TUHAN memberi pilihan, dan semua pilihan dapat dilakukan oleh manusia sesuai kehendaknya. TUHAN tidak membatasi dan menentukan sebuah pilihan kepada manusia, karena pada hakekatnya TUHAN tidak memerlukan semua itu dari manusia.
Tapi tuhan akan menyayangi manusia yang bias menentukan sebuah pilihan bijaksana sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia. Dengan didasari kepasrahan kepada TUHAN Yang Maha Esa karena sikap tanpa penyerahan merupakan sifat kesombongan penyerahan adalah pengakuan diri manusia yang tidak mempunyai daya dan upaya dihadap TUHAN.
Dan penyerahan tidak akan berarti tanpa adanya rasa sabar tawakal dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan yang telah ditakdirkan kepada manusia.
( dikutip dari : buku Kenyataan hidup karya machrus budinur )
-
Arsip
- November 2008 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS